Satu Abad Menjaga Api , Dari Normaal School (1918)  ke SMAN 3 Jombang

Smagajo-Jombang , Jauh sebelum dikenal sebagai Jalan Dokter Sutomo, kawasan ini memendam kisah lewat sebutan ‘Jalan Normalan’ di benak warga Jombang. Sebuah nama ikonik yang menjadi bukti jejak sejarah panjang sejak era kolonial Hindia Belanda.

Kompleks seluas 5,4 hektar yang kini kita kenal sebagai SMA Negeri 3 Jombang ternyata menyimpan rekam jejak intelektual yang telah melintasi waktu lebih dari satu abad.

Fajar Cendekia di Jalan Normalan (1918)

Sejarah emas ini bermula ketika Pemerintah Hindia Belanda secara resmi membuka Normaal School voor Inlandsche Onderwijzers (Sekolah Guru Pembantu Pribumi) di Jombang. Surat kabar kolonial Bataviaasch Nieuwsblad edisi 1 Oktober 1918 dan dokumen internal Boekoe Peringatan PNS mencatat bahwa Normaal School Djombang resmi dibuka pada 7 Oktober 1918.

Saat itu, kawasan di Jalan Arjuna (kini Jl. Dr. Sutomo) bertransformasi menjadi pusat pencetak tenaga pendidik pribumi. Pembangunan fasilitas sekolah dilakukan secara bertahap dan modern dengan total rencana anggaran mencapai 187.000 gulden, Jika dispesifikkan ke Rupiah saat ini berdasarkan nilai daya beli riil yang sudah disesuaikan dengan inflasi, 187.000 gulden Belanda tahun 1920 setara dengan sekitar Rp28,35 miliar

Pusat Intelektual & Pencetak Literatur Nasional (1925–1930)

Normaal School Djombang bukan sekadar sekolah guru biasa. Dari kampus inilah lahir karya-karya literatur pengajaran bereputasi nasional.

Salah satu bukti otentiknya tersimpan di perpustakaan KITLV Belanda, yakni buku materi geografi berbahasa Jawa berjudul “NGÈLMOE BOEMI INDIJA WÉTAN”. Buku ini disusun langsung oleh J. L. Oudraad (Direktur Normaal School Djombang era 1925) bersama para guru Jawa (Goeroe-Djawa).

Diterbitkan oleh penerbit ternama J. B. Wolters (Groningen–Weltevreden), buku karya pengajar dari Jombang ini dicetak ulang berkali-kali—mulai dari Cetakan Ke-2 (1925) untuk Pamoelangan Angka II hingga Cetakan Ke-3 (1930) untuk Pamoelangan Alit (Sekolah Dasar). Fakta ini membuktikan bahwa standar kurikulum yang digunakan sudah dapat dibuat sendiri oleh instansi ini

Perkembangan sekolah ini terus berlanjut hingga memiliki empat jenjang kelas pada tahun 1928 di bawah pimpinan Plt. Direktur G.S. Sanders dan pendidik pribumi Raden Soemarso Wirjasoemario.

Dinamika Zaman: Klinik, Pertandingan Amal, & Era Kemerdekaan (1935–1950-an)

Dampak krisis ekonomi dunia (Malaise) pada pertengahan dekade 1930-an menyebabkan Normaal School Djombang ditutup secara resmi pada 30 Juni 1935. Meski demikian, kompleks bangunan utama difungsikan sebagai klinik kesehatan kolonial, sementara fasilitas olahraganya tetap menjadi pusat interaksi warga Jombang.

Surat kabar De Locomotief edisi 20 Mei 1939 mengabadikan momen saat lapangan olahraga sisi barat (Normaalschoolveld) menjadi saksi laga sepak bola amal bergengsi antara The Toenggorono Team (Jombang) melawan v.v. Modjopahit (Mojokerto). Hasil penjualan tiket pertandingan tersebut disumbangkan untuk lembaga bantuan sosial Jombang (A.S.I.B.).

Pasca-kemerdekaan, berdasarkan Peta DPUD Jawa Timur Seksi Mojokerto (Denah P 32), kompleks seluas 5,4 hektar ini berkembang menjadi Kompleks Pendidikan Terpadu yang menampung SGA, SGB, SMA, SMP, hingga SMEP.

Dari Era SPGN Jombang Menuju SMAN 3 Jombang (1981–1991)

Pada era 1970-an hingga 1980-an, kompleks ini menjelma menjadi kampus Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Jombang. Pada tahun 1981, di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Bapak Darmadi, dilakukan modernisasi fisik dengan membangun gedung dua lantai di area utara Lapangan Bundar. Pembangunan ini dilakukan dengan cermat tanpa merobohkan gedung-gedung bersejarah peninggalan era Normaal School.

Seiring dengan kebijakan konversi SPG secara nasional, pada 5 September 1991, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0519/O/1991, sekolah ini secara resmi bertransformasi menjadi SMA Negeri 3 Jombang di bawah pimpinan kepala sekolah pertama, Bapak S.H. Purwosarono.

Merawat Waris Intelektual,Mengobarkan Spirit BASTYASAKA

Kini, SMAN 3 Jombang berdiri anggun menempati lahan bersejarah peninggalan Normaal School Djombang (1918). Gedung Utama Biru dua lantai berdiri menghadap Lapangan Bundar—halaman bersejarah yang terus menjadi saksi bisu lahirnya generasi muda berprestasi dan para calon cendekia-cendekia muda tanah Jombang.

Di bawah panji motto BASTYASAKA (Bareksa Satya Basari Jatmika), SMAN 3 Jombang tidak hanya merawat fisik warisan cagar budaya pendidikan ini, tetapi juga terus menjaga api semangat cendekia yang telah menyala sejak satu abad yang lalu.

Catatan Penulis & Informasi Karya Buku

Tulisan ini disarikan dari hasil riset dan rekonstruksi sejarah oleh Maulana Rohmat Hidayatulloh, S.Pd., Gr., Guru Sejarah SMAN 3 Jombang. Penelusuran dilakukan dengan mengomparasi arsip surat kabar Hindia Belanda (Bataviaasch Nieuwsblad, De Locomotief),  dokumen internal kolonial, seluruh temuan arsip kolonial, peta spasial DPUD, foto dokumentasi kuno, katalog perpustakaan KITLV Belanda, hingga kesaksian sejarah lisan. keseluruhannya sedang dalam proses penyusunan dan penulisan menjadi sebuah Buku Sejarah yang Utuh.

[ Team Medsos Smagajo]